Someone who is Frail
Sabtu, 09 Maret 2013
Jumat, 01 Maret 2013
Bersandar diatas dasar yang rapuh
Pijakan yang membuat timbulnya rasa aman dan pencapaian rasa puas dalam diri manusia menjadi kebutuhan utama yang sering secara tidak sadar terabaikan dari perhatian banyak orang. Kebutuhan akan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan tugas-tugas yang dibebankan merupakan hal primer untuk manusia.Tanpa sadar pijakan-pijakan itu seringkali terlihat aman tetapi sebenarnya memiliki tingkat kerapuhan yang signifikan.
Uang, Departemen, Jaringan keluarga dan pertemanan, dsb. adalah contoh-contoh pijakan yang selama ini dijadikan fokus sebagian besar orang untuk menaruh rasa amannya. Ketika hal-hal ini gagal memberikan rasa aman, muncullah kalimat-kalimat penyadar "uang tidak bisa membeli kebahagiaan", "tidak ada kawan abadi di dalam politik", dsb. Itulah fakta-fakta yang sebenarnya selalu mengingatkan kita bahwa dasar pijakan pilihan manusia itu sering kali rapuh dan hanya memberi rasa aman dan puas yang sementara untuk kurun waktu singkat. Nilai uang berubah, hubungan antar manusia juga berubah, manusia juga berubah, semua berubah dan sulit diprediksi.
Para pejabat mengandalkan posisi, jabatan, wewenang, posisi dalam struktur pemerintahan, tingkat ekonomi, kekayaan, kedekatan dengan kantor tinggi, keluarga besar, pengaruh, dll. Memiliki rasa aman terhadap segala ancaman dan memiliki ketenangan dalam menjalani hidup menjadi bagian penting bagi manusia dimana saja.
Menilik sepak terjang sebagian orang yang diberitakan dan ditampilkan oleh berbagai media saat ini seakan menegaskan bahwa memang landasan-landasan di atas digunakan untuk seseorang meraih sebanyak mungkin kesenangan yang bisa di dapat dan jika mungkin menghindarkan dirinya dari segala macam bentuk ancaman baik untuk dirinya, keluarganya dan kelompoknya.
Demi rasa aman dan makmur ini sebagian orang rela mengorbankan orang lain, nilai-nilai luhur dan bahkan dirinya sendiri.
Sejarah manusia pernah mencatat bahwa pada zaman dahulu pun sudah terjadi hal-hal demikian bahkan penyuaraannya lebih lantang dan bahkan dikeluhkan langsung kepada Sang Pencipta dalam bentuk syair dan Zabur. Seperti yang disampaikan oleh Nabi Daud. "Sia-sia sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tula, dan hukuman setiap pagi ". Ada perasaan tidak adil terhadap hidup yang dimilikinya. Seorang nabi yang berusaha untuk menjalani kehidupan dengan cara sebagaimana yang dikehendaki Sang Penciptanya, tetapi yang dia temukan adalah kondisi yang justru berbanding terbalik dengan orang-orang yang seharusnya mengalami penderitaan karena kelicikan atau ketidakjujuran yang dilakukan mereka. Daud merasa heran, mengapa untuk dia menjalani kehidupan yang taat kepada Allah justru dia mengalami penderitaan. Tetapi orang-orang yang menjalani hidup tidak sesuai dengan hukum-hukum Tuhan justru mengalami hidup yang lebih menyenangkan. Nabi Habakuk malah menyatakan itu dengan lebih lantang dan jelas lagi. Bahwa "hukum kehilangan kekuatannya dan tak pernah muncul keadilan .. dan keadilan muncul terbalik." Nabi Habakuk begitu menderita melihat situasi pada zamannya.
Penghiburan bagi nabi Daud dia dapatkan ketika dia berkata, "sampai aku masuk ke tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kau taruh mereka, Kau jatuhkan mereka sehingga hancur.Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kau pandang hina. " Daud mendapat kesempatan untuk menyaksikan langsung situasi yang dialami oleh orang-orang yang berlaku tidak adil ini. Dan begitulah akhir cerita mereka.
Begitu juga dengan nabi Habakuk, sesudah dia mengadukan semua ketidakadilan yang terlihat, maka TUHAN menjawab dia, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya.Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya. Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya-berapa lama lagi? -Dan yang memuati dirinya dengan barang hipotek . "
Pencarian manusia akan kepuasan tidaklah berujung. Keinginan untuk memperoleh harta yang diinginkan tidak akan pernah selesai. Kepuasan adalah semu.Kecenderungannya adalah menguasai lebih banyak dan berada di atas orang lain.Jika mungkin dirinya menjadi nomor 1. Itulah godaan menjadi kaya dan memiliki semua hal yang bisa dimiliki. Kebutuhan untuk diakui, dihormati, disegani, bisa melakukan apapun yang diinginkan adalah niat dan keinginan yang jauh tersimpan dan bersuara di dalam hati kecil yang terdalam. Itulah keberadaan manusia tanpa kecuali.Perbedaannya adalah ada sebagian orang yang perduli dan berusaha mengontrol situasi ini dalam hidup mereka, sementara sebagian yang lain cenderung membiarkan dan bahkan meperparah situasi ini sehingga muncul penguasaan dan manipulasi terhadap orang lain apalagi ketika mereka memperoleh posisi dan kesempatan yang lebih terbuka dan tersedia.
Akhirnya kita akan dibawah ke fakta bahwa sebenarnya hanya Tuhan dan kebenaran adalah landasan berpijak yang kokoh dan tak tergoyahkan. Rasa aman dan puas kita seharusnya berpijak pada dasar ini bukan apapun yang berada di luar atau selain Dia.
Langganan:
Postingan (Atom)
